Jumat, 07 Januari 2011

PENGALAMAN KU :

Okee. Aku akan menceritakan sedikit pengalaman ku untuk kamu-kamu semua ;) cekidot :D

Hai semua. Perkenalkan nama ku INGRID HARYANA B, tapi orang-orang terdekat biasa memanggil ku dengan sebutan IING haha. Aku lahir tanggal 15 april 1996 di Padang (14 tahun). Aku seorang siswi salah satu RSMABI di kota Padang. Yaitu SMAN 10 Padang (SMANTEN PADANG). aku duduk di kelas Sepuluh Tiga (COIN SEGA). Hayooo yang berani, baca sampe abis yaa HAHA

Sedikit terlebih dahulu, aku adalah seorang remaja yang hobby melukis dan dunia SENI :D tapi bakatku yang tersalurkan sampai sekarang adalah MELUKIS ;). Dan ini sedikit cerita tentang ekspedisi ku di dunia melukis.

Bakat ku mulai ditemukan pada saat berumur 4 tahun. Menurut cerita papa dan mama pada saat umur 4 th, aku suka mencorat-coret di kertas. Pada saat itulah papa dan mama mengetahui bahwa aku hobby dengan yang namanya MELUKIS, berhubung kakak kandungku pun juga hobby melukis sebelelumnya :). Papa dan mama pun menyalurkan bakat ku. Mereka menyalurkannya bukan dengan cara membawa ku ke sanggar melukis, tapi dengan menyediakan semua kebutuhan yang diperlukan untuk melukis. Seperti kertas, kanvas, crayon, pensil warna, cat minyak dll. Dan berhubung papa juga seorang arsitek, papa pun tahu sedikit banyak tentang melukis. Mulai dari umur 4 th aku selalu latihan melukis di setiap waktu luang.

Saat kelas II SD, aku mulai mengikuti berbagai macam lomba melukis maupun mewarnai. Memang pada saat awal-awal aku terjun ke arena lomba aku tidak pernah menang dalam perlombaan melukis yang aku ikuti. Selama kurang lebih 2 tahun aku mengalami itu. Tapi walaupun begitu, kami (aku dan keluarga) tidak pernah menyerah. Aku terus giat berlatih dan berlatih. Pada saat  kelas IV SD aku mulai menjuarai sebuah perlombaan. Penghargaan itu membuat semangat ku semakin berkobar.

Berbagai macam perlombaan melukis aku ikuti, baik tingkat kecamatan, tingkat kota, tingkat Provinsi, tingkat Nasional maupun ajang-ajang tingkat Internasional. Alhamdulillah hasilnya cukup memuaskan. Di setiap perlombaan yang aku ikuti, aku selalu menjuarai minimal Juara III. *thanks God*. Dan Alhamdulillah juga tidak sedikit wartawan majalah, berita harian(koran), maupun wartawan-wartawan televisi yang datang ke rumah maupun ke sekolah untuk mewawancarai ku ;) *jadiselebmendadak*, mulai dari berita harian Singgalang, Padang Ekspres, Haluan, Kompas, TVRI, MetroTV, TransTV, dll. Lalu dengan melukis ini aku bisa pergi ke luar kota (seperti Jakarta, Bengkulu, dll) tanpa mengeluarkan biaya dari orang tua sepersen pun ;) *thankyousomuchGod*

Heeem, aku tidak hanya mengikuti ajang-ajang yang menegangkan saja hhehe, aku juga mengikuti berbagai macam pameran lukisan. Mulai dari pameran bersama maupun pameran tunggal. Aku pernah pameran di Tokyo, Galeri Nasional Indonesia, Tambud Sumbar, Tambud Bengkulu dan masih banyak lagi ;). Aku bisa mengikutsertakan diri ku untuk mengikuti berbagai pameran karna aku selalu mengoleksi setiap karya lukisan yang telah aku ciptakan, baik itu hasil latihan maupun memang lukisan yang diniatkan untuk diikutsertakan pameran. Hhehe. Papa yang selalu menyimpan hasil karya-karya ku ;) beliau tidak pernah membuang sehelai pun karya yang telah aku buat. Oleh sebab itu aku telah mengoleksi lukisan ku sendiri dengan jumlah lebih kurang 160 buah karya. Tapi tidak hanya aku sendiri yang telah mengoleksinya wkwk, para pejabat-pejabat tinggi pun juga telah mengoleksinya.

Dari hasil bakat dan hobby ku dalam bidang melukis, alhamdulillah aku bisa membeli sebuah motor matic ;) tapi sayangnya, sampai sekarang aku belum bisa mengendarai motor itu hahahaha.

Semua cerita diatas ku alami mulai dari umur 4 th sampai dengan umur 13 tahun. Sekarang aku duduk di bangku SMA, ajang-ajang melukispun jarang diadakan. Tapi InsyaAllah sampai sekarang aku belum meninggalkan dunia itu ;). Berhubung perlombaan melukis jarang diadakan, ini saatnya untuk aku mengasah kemampuan seni ku dibidang lain. Seperti yang aku bilang sebelumnya, selain aku mencintai dunia Lukis, aku juga senang dengan dunia seni lainnya, aku hobby menyanyi. Dan saat aku masuk ke SMANTEN, bakat musik ku tersalurkan. Selain aku mengikuti ekskul Seni Musik di sekolah, aku juga di request teman sekolah untuk menjadi vocallist band haha, band itu bernama COIN SMANTEN <3 , *semogabandkitasuksesya,AMIIN* ;) haha dan keinginan ku selanjutnya di dunia seni yaitu aku ingin menjadi Finallist Indonesian Idol :D haha kedengarannya mustahil, tapi selagi ada kemauan dan kemampuan, why not ?! wkwk Semua hasil ini tentu tidak datang dengan sendirinya. Butuh usaha yang keras dan doa serta restu orang tua pun tidak kalah pentingnya ;). So guys, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kita yang menaklukan dunia, bukan dunia yang menaklukan kita ;). THERE IS A WIIL THERE IS A WAY. BE THE FIRST FROM THE BEST. KEEP IT. ;)

Udah duluu yaa ;) pegel nih tangan ngetik wkwk ;D kalok ada saran ato kritik ato cacian silahkan komentar aja di bawah hahaha thanks a lot for read this entri ;) Gbu all :*

Rabu, 05 Januari 2011

kutipan Blog salah satu SMA kota Padang

Sumatera barat boleh berlega hati, dengan munculnya seorang pelukis wanita, Inggrid Haryana B. Dalam usianya 10 tahun Ingrid sudah mulai mengasah kemampuan melukisnya, melalui pameran tunggal yang digelar di taman Budaya Propinsi Sumatera Barat dari tanggal 23-29 Agustus 2006. 
Terlahir dari pasangan Ir. Beni Haryanto (Ayah) dan Nur Asna, A.Ma Pd (Ibu) sejak dari usia 2 tahun Inggrid sudah menunjukkan bakat, melalui coret moret di kertas, sampai dinding rumah sebagai ungkapan mediator lukisnya.
Melalui karya yang dipamerkan, lebih dari 100 lukisan Inggrid mampu merekam berbagai objek melalui dunia “ mungkin “ atau dunia “ Singgah “ yang mampu dimunculkan melalui garapan yang khas lewat media pentel.

Untuk siswa yang masih duduk dibangku kelas 6 Sekolah Dasar Negeri 09 Bandar Buat, Lubuk Kilangan Padang ini Pameran tunggal adalah salah satu obsesinya. Ingrid ingin lukisannya dinikmati oleh banyak orang, tidak hanya sebatas pada teman-teman dan kerabat terdekat saja. Puluhan piala dan penghargaan sudah ia peroleh, baik tingkat kota Padang. Regional dan Nasional. Ingrid ingin karyanya di Apresiasi oleh banyak orang.
Mencermati karya Ingrid, adalah menikmati sebuah dunia riang, penuh canda dan kaya akan warna. Dalam pengamatan saya Ingrid begitu kuat merekam hal-hal yang pernah singgah dalam kehidupannya. Ini terlihat jelas pada beragamnya Objek dan tema yang Ia sampaikan melalui lukisan yang dipamerkan.
Kekuatan Ingrid dalam merekam lingkungan sekitar terlihat pada lukisan berjudul Hoyak Tabuik, Babendi, Balai Kota Padang, ke Sari Anggrek dan rumah nenek. Kita menikmati kemampuannya dalam harmonisasi, keteraturan Sub- Objek dan kepiawaian mengolah warna-warna terang.
Memasuki lukisan Ingrid Haryono B, adalah memasuki dunia anak. Seperti kita ketahui bahwa dunia anak adalah sebuah dunia yang dipenuhi dengan keceriaan. Rasa gembira, serta Fantasi yang melesat tinggi bagai mimpi. Seburuk apapun kondisi yang terpampang dihadapan seorang anak akan tetap menjadi sebuah kondisi yang indah, ceria, karena dunia anak memandang dengan “kaca mata polosnya “ “ harapannya “ dan “fantasinya”.

Saya lama berdiri tepat di depan hamparan lukisan Ingrid dengan Judul “ Ngarai Sianok 2030”. Lukisan berukuran 80 x 60 cm tersebut menarik saya untuk tamasya bathin ke masa depan tahun 2030, di mana Ngarai Sianok sebagai salah satu objek wisata terkenal di Sumbar, di tengah Ngarai telah berdiri hotel bintang lima. 

Kaya seakan dibangunkan dari mimpi bahwa, Ngarai Sianok yang bagi para pelukis senior Sumatra Barat, senantiasa dihadirkan dalam lukisan dengan rupa elok bagai disurga , tanpa ancaman lingkungan erosi, limbah atau tatanan perumahan yang kian padat, bahwa ngarai Sianok juga berkaitan dengan banyak kepentingan. Di tangan Ingrid ngarai Sianok tidak lagi sebatas pemandangan alam yang indah permai, damai sejahtera. Saya takjub dan bergumam, betapa tingginya Imajinasi dunia anak.

Menikmati suasana lain dari latihan Ingrid dengan judul “Hoyak Tabuik” warna-warna ceria adalah wakil dari suasana kegembiraan, merah kuning, hijau adalah wakil dari kemeriahan suasana yang terekam melalui objek. Mewakili Sumatera Barat, juga ada marawa dan umbul-umbul dengan warna hitam, merah dan kuning. Dimeriahkan dengan tari piring dengan latar belakang rumah adat dan pantai diwakili dengan warna biru.

Pada bagian langit saya menikmati kibaran bendera di bawa oleh sebuah pesawat kecil yang dibawa seorang pemuda. Saya mengamati lebih lanjut bahwa hampir dalam setiap lukisan yang bertemakan tentang keramaian, Ingrid senantiasa mengibar bendera merah putih dan marawa hitam, kuning, merah. Hal ini menandakan jiwa cinta tanah air, cinta daerah,. Ingrid kecil dalam usia 10 tahun telah menyamai semangat patriotisme dalam lukisannya saya membayangkan jika karya-karya Ingrid di usung keluar negeripun, orang akan tau bahwa “ini adalah Indonesia” negeri penuh dengan ragam budaya, tidak senantiasa dipenuhi oleh busung lapar, BOM atau demo dimana-mana.

Membaca dunia dan ekspresi kanak-kanak, tidaklah pantas kalau kita tidak menanggalkan logika sejenak. Keserasian profesional, objektifitas karya, atau suasana yang muncul dalam lukisan dengan judul “ Tsunami”.

Kepekaan Ingrid terhadap tema garapan, kemampuannya untuk menuangkan dalam kanvan saat merekam peristiwa ketika kita membayangkan suasana sesuai judul.

Menyaksikan warna ombak dengan warna biru, setinggi bangunan, orang-orang berlarian, saya membayangkan suasana yang mencekam hiruk pikuk dan kacau balau. Tetapi dalam lukisan Ingrid dengan judul Tsunami tidak memberikan kesan mencekam. Hal ini tentu saja karena warna yang dipakai tetap warna kas Ingrid : merah, kuning, hijau dan biru, sehingga objek yang digambarkan seakan-akan bertentangan dengan warna cerah ceria yang hadirkan. Seperti halnya, bahwa kanak-kanak seburuk apapun itu, ia akan tetap melihatnya dengan kacamata kepolosan yang ceria.

Melukis sacara otodidak, adalah anak yang memiliki kemandirian yang tegar dalam proses cipta rupa, karena lebih ditempa dengan alam dan lingkungannya. Tetapi pada dasarnya bahwa menggambar maupun melukis bagi anak merupakan bagian dari penghalusan budi, karena ia bersentuhan dengan rasa estetik, mengendalikan emosio, membebaskan ekspresi dalam keliaran gais. Dan Ingrid Haryana ( 10 tahun) karya-karyanya yang cenderung dekoratif, menata bidang dengan susunan warna-warni sehingga menimbulkan objek lewat gradasi warna.

Di Sumatera Barat, khususnya Kota Padang banyak bermunculan sanggar melukis untuk anak. Tetapi sering terkendali dengan sistem pengembangan yang bisa melahirkan “roh” individual anak. Sering kali tanpa disadari anak terpatron dengan penekanan-penekanan yang tersusun dengan baku sesuai teori seni lukis itu sendiri, melalui instrukturnya. Hingga lukisan yang lahir adalah lukisan bercorak seragam, nyaris tanpa “roh” keindividuan.

Kita sering kali terlupa bahwa seorang anak bagaikan busur sebuah anak panah yang meleset ke masa yang akan datang, sungguhpun bersamamu, mereka bukan milikmu, karena hidup mereka ada dimasa depan, jadi jangan pernah memaksakan mereka memakai pikiran mu (Khalil Gihran).

Oleh sebab itu sangat penting anak-anak diberi kemerdekaan dalam menuangkan serta hal-hal yang akan mendukung lahirnya sebuah karya dengan corak khas individu anak sendiri. Dengan demikian maka lahir beragam corak yang ditampilkan anak-anak, dan ini menjadi sesuatu yang sangat menarik.

Pelukis perempuan Sumatera Barat memang langka, dengan menjamurnya sanggar-sanggar seni lukis anak-anak di Kota Padang tentunya akan lahir karya-karya handal dari pelukis perempuan di masa depan. Ingrid adalah cikal bakal pelukis perempuan Sumatera Barat kedepan. Sekaligus menunjukkan bahwa Sumatera Barat memiliki mata rantai yang jelas tentang seni lukis. Ingrid adalah asset daerah yang berharga.

Tentu tidak cukup hanya menjaga, kita harus sama-sama, satu tujuan, bagaimana seorang maestro. Kita ketahui Indonesia lahirkan terlalu sedikit memiliki seorang maestro. Seorang maestro tidaklah lahir dengan sendirinya. Ia harus dicari, dibentuk di besarkan dan diusung bersama menuju “maestronya”.

Kita bercermin kepada masa lalu bahwa sudahkah kita meriset pembacaan karya-karya seniman kita? Sudahkah ada kesiapan kita untuk mengkaji karya Wakidi atau Samsul Bahar, kemudian mempublikasikan, menyelamatkan dokumennya, membuat museumnya dan mengukuhkannya sebagai maestro? . 
Sudahkah ada kesiapan kita untuk membangun politik identitas,, yakni suatu kemampuan mengidentifikasi sejumlah “kekuatan” dan mendiasikannya pada forum dunia yang lebih luas? Sudahkah masyarakat seni rupa Sumatera Barat merapatkan barisan dan memberikan dukungan secara kompak untuk lahirnya seorang maestro? Seperti halnya dengan seorang tokoh politik yang memiliki time sukses yang mengantarkan sang tokoh menuju kursi pimpinan.

Adapun kondisinya, kita banyak belajar dari masa lalu, kita ingin nama seni lukis Sumatera Barat tetap diperhitungkan oleh dunia luar. Dan Ingrid Haryana telah mulainya hari ini.